Senin, 15 Desember 2014

DETEKSI AWAL KANKER PARU-PARU

Posted by Unknown On 04.15
Para peneliti dari Universitas Northwestern dan Universitas North Shore mengembangkan metode untuk mendeteksi gejala-gejala awal kanker paru-paru dengan memeriksa sel-sel pipi manusia dengan menggunakan teknologi biofotonik.

Deteksi Awal Kanker Paru-Paru

"Dengan memeriksa lapisan pipi dengan teknologi optik ini, kita memiliki kemungkinan untuk mendeteksi awal para pasien yang memiliki resiko tinggi terkena kanker paru-paru seperti para perokok, dan mengidentifikasi orang-orang yang memerlukan uji yang lebih mahal dan mendalam dibandingkan dengan mereka yang tidak memerlukan uji tambahan," kata Hemant K. Roy, M.D. yang merupakan direktur penelitian gastroenterologi di NorthShore.

Teknik optik itu disebut spektroskopi gelombang parsial (SGP) mikroskopi dan dikembangan oleh Vadim Backman yang merupakan seorang profesor teknik biomedis di Sekolah Teknik dan Sains Terapan McCormick Northwestern. Sebelumnya Backman dan Roy menggunakan SGP untuk menilai resiko kanker usus besar dan kanker pankreas dengan hasil yang menjanjikan juga.

Penemuan mengenai kanker paru-paru tersebut dipublikasikan lewat internet pada tanggal 5 Oktober kemarin di jurnal Penelitian Kanker. Makalahnya akan dicetak pada edisi 15 Oktober.

Kanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian karena kanker di Amerika Serikat. Tingkat kelangsungan hidup menjadi tinggi dengan bedah reseksi (pengangkatan tumor), tapi hanya jika terdeteksi pada tahap awal. Saat ini tak ada tes-tes yang disarankan bagi masyarakat untuk mendeteksi kanker paru-paru dini. Penyakit ini sudah pada tahap yang lebih tinggi ketika kebanyakan pasien kanker paru-paru menunjukkan gejala-gejala. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk pasien kanker paru hanya 15 persen.

SGP bisa mendeteksi fitur sel yang berukuran hingga 20 nanometer yang mengungkap perbedaan dalam sel-sel yang tampak normal dengan menggunakan teknik mikroskopi standar. Uji berbasis SGP memanfaatkan "efek medan" yang merupakan fenomena biologis di mana sel-sel yang terletak pada jarak tertentu dari tumor ganas atau pra-ganas mengalami perubahan molekular dan lainnya.

"Terlepas dari fakta bahwa sel-sel ini terlihat normal dengan mikroskop standar yang menggambarkan arsitektur sel pada skala mikro, sebenarnya ada perubahan besar dalam arsitektur berskala nano sel tersebut," ujar Backman. "SGP mengukur kekuatan gangguan organisasi skala nano sel tersebut yang telah kita tetapkan menjadi salah satu dari tanda-tanda awal karsinogenesis dan merupakan penanda kuat bagi keberadaan kanker dalam organ tubuh."

"SGP merupakan suatu perubahan paradigma yang dalam hal ini kita tidak perlu memeriksa tumor itu untuk menentukan keberadaan kanker," tambah Hariharan Subramanian yang merupakan rekan peneliti di laboratorium Backman yang memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi tersebut.

Setelah menguji teknologi itu dalam percobaan skala kecil, Roy dan Backman memfokuskan studi tersebut pada para perokok karena merokok merupakan faktor resiko utama yang berhubungan dengan 90 persen para pasien kanker paru-paru. "Gagasan dasarnya ialah bahwa merokok tak hanya berdampak pada paru-paru tapi saluran nafas keseluruhan," kata Roy.

Penelitian tersebut mengikutsertakan 135 partisipan termasuk kelompok 63 perokok yang menderita kanker paru-paru dan 37 perokok yang menderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), 13 perokok yang tidak terkena PPOK serta kelompok 22 orang yang bukan perokok. Penelitian ini tidak dibaurkan dengan faktor-faktor demografi seperti tingkat merokok, umur atau jenis kelamin. Yang penting tes tersebut rata-rata sensitif terhadap kanker pada semua tahap termasuk kanker awal yang bisa disembuhkan.

Para peneliti menyeka bagian dalam mulut para pasien dan kemudian sel-sel pipi ditempatkan ke dalam kaca mikroskop, diperbaiki dengan etanol lalu dipindai dengan SGP untuk mengukur kekuatan gangguan arsitektur nano sel. Hasilnya nyata meningkat (lebih dari 50 persen) pada pasien yang menderita kanker paru-paru ketimbang para perokok yang tidak menderita kanker.

Penilaian lebih jauh karakteristik-karakteristik performa "kekuatan gangguan" tersebut (sebaga penanda biologis) menunjukkan lebih dari 80 persen ketepatan dalam membedakan pasien-pasien kanker dalam ketiga kelompok tersebut.

"Hasil tersebut mirip dengan teknik skrining kanker yang sukses lainnya, seperti pap smear," ujar Backman. "Tujuan kita ialah untuk mengembangkan suatu teknik yang bisa meningkatkan pendeteksian kanker-kanker lainnya dalam rangka menyediakan perawatan dini sama seperti pap smear yang secara drastis meningkatkan rasio kelangsungan hidup bagi para penderita kanker servik."

SGP memerlukan pengujian validasi berskala besar. Jika SGP tetap terbukti efektif dalam uji klinis pendeteksian dini kanker, Backman dan Roy yakin bahwa SGP berpotensi untuk digunakan sebagai metode pra-skrining yang mengidentifikasi pasien-pasien dengan resiko tinggi yang mungkin membutuhkan uji yang lebih komprehensif seperti bronkoskopi atau CT scan kecil.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/10/deteksi-awal-kanker-paru-paru.html

Mau Menurunkan Berat Badan? Matikan Lampu

Posted by Unknown On 04.14
Rahasia mempertahankan berat badan yang sehat bisa segampang mematikan lampu pada malam hari, menurut penelitian baru.

Menurunkan Berat Badan

Terkena cahaya terus menerus pada malam hari mengubah metabolisme anda dan membuat badan anda gemuk bahkan tanpa perubahan jumlah makanan yang anda konsumsi, sesuai apa yang ditemukan para peneliti.

Mereka menemukan bahwa begadang seringkali membawa perubahan pada kebiasaan makan yaitu lebih banyak yang dimakan pada malam hari ketika metabolisme sedang melambat.

Bukti menunjukkan bahwa para pekerja 24 jam lebih rentan terhadap penyakit jantung dan diabetes.

Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang terekspos dengan cahaya kecil atau redup selama delapan minggu menjadi sepertiga lebih berat daripada para tikus yang berada pada siklus standar siang dan malam.

Laura Fonken yang merupakan seorang ilmuwan neurosains di Universitas Negara Bagian Ohio mengatakan: "Walaupun tak ada perbedaan pada tingkat aktivitas atau konsumsi makanan harian (diet), para tikus yang hidup dengan cahaya pada malam hari menjadi kian gemuk dibandingkan dengan yang lainnya."

Penemuan tersebut yang dipublikasikan lewat internet di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa ada waktu yang "salah" untuk makan.

Perolehan berat badan jelas bukan hanya terbatas pada kalori yang masuk dan kalori yang keluar tapi juga tergantung pada jam biologis tubuh kita sendiri atau yang disebut circadian rhythm.

Dr. Fonken dan para koleganya mengatakan: "Cahaya pada malam hari merupakan suatu faktor lingkungan yang bisa saja menjadi penyebab epidemi atau wabah obesitas yang tidak diduga oleh orang-orang.

"Obesitas kolektif terkorelasi dengan sejumlah faktor termasuk tingkat eksposur cahaya pada malam hari."

Sebagai contoh, para peneliti mengidentifiksi penggunaan komputer dan televisi yang lebih lama sebagai faktor resiko obesitas, tapi para peneliti telah memfokuskan pada bagaimana hal tersebut berhubungan dengan kekurangan aktivitas fisik.

Prof. Nelson mengatakan: "Mungkin saja orang-orang yang menggunakan komputer dan menonton Televisi semalaman makan pada waktu yang salah yang mengganggu metabolisme mereka."

"Sudah jelas, menjaga berat badan memerlukan pemasukkan kalori rendah serta aktivitas fisik yang tinggi, tapi faktor lingkungan ini bisa saja menjelaskan mengapa beberapa orang yang menjaga keseimbangan energi dengan baik masih saja bertambah berat."

Pada satu eksperimen, tikus-tikus dibiarkan terkena cahaya pada malam hari, tapi pola makannya diatur pada waktu makan normal. Tikus-tikus tersebut tidak bertambah berat seperti layaknya yang berada dalam siklus normal siang dan malam.

Prof. Nelson mengatakan: "Sesuatu tentang cahaya pada malam hari membuat para tikus dalam penelitian kami ingin makan pada waktu yang salah untuk memetabolisme makanan mereka dengan baik."

Dia mengatakan jika hasilnya dikonfirmasi pada manusia hal ini akan mengindikasikan bahwa makan pada larut malam bisa saja merupakan faktor resiko khusus dari obesitas.

"Ketika kami membatasi pola makan mereka ke waktu makan normal mereka, kami tidak melihat pertambahan berat badan. Hal ini menambahkan bukti bahwa waktu makan sangat kritis terhadap pertambahan berat," kata Dr. Fonken.

Tam Fry dari the National Obesity Forum menggambarkan sebuah studi baru yang menginformasikan makan pada larut malam bisa membuat anda gemuk sebagai "sesuatu yang sangat menarik".

Dia mengatakan: "Waktu makan sangat signifikan."

"Kami telah lama menganjurkan orang-orang bahwa makan malam lebih cepat dapat membantu menjaga berat badan mereka tetap seimbang daripada makan pada larut malam yang membuat makanan ada dalam tubuh tanpa aktivitas fisik sepanjang malam.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/10/mau-menurunkan-berat-badan-matikan.html

ES MEMPERLAMBAT PENYEMBUHAN CIDERA

Posted by Unknown On 04.12
Menaruh es pada bagian yang cedera misalnya pergelangan yang terkilir bisa memperlambat penyembuhan, menurut penelitian baru.

Es Memperlambat Penyembuhan Cidera
Menaruh es pada bagian cidera - Foto: Flickr

Selama bertahun-tahun orang diajarkan untuk mendinginkan memar atau otot yang terkilir untuk mengurangi pembengkakan, akan tetapi untuk pertama kalinya para peneliti sekarang telah menemukan bahwa hal tersebut dapat memperlambat penyembuhan karena mencegah pelepasan hormon kunci perbaikan.

Penemuan ini mengesampingkan kearifan konvensional yang mengatakan bahwa pembengkakan mesti dikontrol untuk mendorong penyembuhan dan mencegah rasa sakit.

Hal ini bisa juga mengarahkan kepada terapi-terapi baru bagi cedera-cedera otot yang menyebabkan peradangan.

Penelitian tersebut yang dipublikasikan di jurnal Biologi Eksperimental the Federation of American Societies menunjukkan bahwa peradangan otot setelah cedera akut sangat penting bagi perbaikan.

Profesor Lan Zhou beserta para koleganya di Pusat Penelitian Neuroinflamasi di Klinik Cleveland yang berlokasi di Ohio menemukan bahwa sel-sel yang meradang menghasilkan tingkat tinggi hormon yang disebut insulin-like growth factor-1 (IGF-1) yang secara signifikan meningkatkan rasio regenerasi otot. Demikian sebagaimana yang dikutip dari Telegraph, Selasa (26/10/2010).

Dalam studi tersebut, para peneliti mempelajari dua kelompok tikus. Kelompok pertama secara genetik direkayasa agar mereka tidak dapat membentuk respons peradangan ke bagian yang cedera. Kelompok yang kedua ada dalam kondisi normal.

Semua tikus kemudian disuntik dengan barium klorida untuk menyebabkan cedera otot.

Kelompok tikus pertama tidak sembuh, tapi tubuh tikus-tikus kelompok kedua memperbaiki cedera tersebut.

Ketika mereka mempelajari jaringan otot, mereka melihat bahwa tikus yang sehat menghasilkan IGF-1 dengan tingkat tinggi dalam jaringan yang meradang.

Prof Zhou mengatakan: "Kami berharap bahwa penemuan kami mendorong penelitian lanjut untuk membedah fungsi berbeda yang diperankan oleh peradangan jaringan dalam latar klinis, agar kita bisa menggunakan pengaruh positifnya dan mengontrol pengaruh negatif peradangan jaringan."

Penemuan ini bisa mengubah seberapa banyak pengawasan terhadap pasien diperlukan ketika obat-obatan keras anti peradangan diberikan dalam waktu yang lama.

Gerald Weissmann yang merupakan editor jurnal Biologi Eksperimental mengatakan: "Agar cedera bisa sembuh, kita perlu peradangan terkontrol, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Studi ini melewati jalan yang panjang untuk memberitahukan kita mengapa insulin-like growth factor serta material-material lainnya yang dilepaskan oleh sel-sel yang meradang bisa membantu cedera mencapai kesembuhan."

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/10/es-perlambat-penyembuhan-cidera.html

MENGUBAH KULIT MENJADI DARAH MANUSIA

Posted by Unknown On 04.12
Para ilmuwan menemukan cara membuat darah dari kulit manusia dewasa.

Mengubah Kulit Menjadi Darah Manusia

Temuan terobosan tersebut bisa saja berarti bahwa ke depan, orang-orang yang akan membutuhkan darah untuk operasi, perawatan kanker atau perawatan penyakit lain yang berhubungan dengan darah seperti anemia, bisa mendapatkan darah yang dihasilkan dari sepotong kulit mereka sendiri untuk transfusi. Uji klinis kemungkinan bisa dimulai tahun 2012.

Mick Bhatia yang merupakan direktur ilmiah McMaster's Stem Cell and Cancer Research Institute di Michael G. DeGroote School of Medicine beserta tim penelitinya juga menunjukkan bahwa konversi tersebut bersifat langsung. Membuat darah dari kulit tidak memerlukan langkah penengah yaitu mengubah sel punca atau sel induk kulit menjadi sel induk pluripoten yang bisa membuat banyak jenis-jenis sel manusia lainnya, kemudian mengubahnya menjadi sel induk darah.

"Kami menunjukkan bahwa hal ini berhasil dilakukan dengan menggunakan kulit manusia. Kami tahu bagaimana cara kerjanya dan yakin bahwa kami bahkan bisa mengoptimalkan prosesnya," tutur Bhatia. "Sekarang kami terus bekerja mengembangkan tipe lain jenis sel manusia dari kulit karena kita sudah memiliki bukti yang meyakinkan." Demikian seperti yang dikutip dari Physorg (07/11/10).

Penemuan tersebut direplikasi beberapa kali selama lebih dari dua tahun menggunakan kulit manusia baik dari yang tua maupun yang muda untuk membuktikan bahwa hal tersebut bisa dilakukan pada orang-orang dari berbagai usia.

"Temuan orisinil tersebut merupakan temuan pertama yang menunjukkan bahwa sel-sel kulit manusia dapat langsung dikonversi menjadi sel-sel darah melalui proses pemrograman tanpa melalui tahap pluripten. Menghasilkan darah dari kulit pasien itu sendiri memiliki potensi untuk menghilangkan masalah kecocokan serta kekurangan donor transplantasi sumsum tulang antigen leukosit manusia (HLA)," kata Christine Williams, PhD, Direktur Penelitian di Canadian Cancer Society Research Institute.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/11/mengubah-kulit-menjadi-darah-manusia.html

OTAK KELELAWAR DAN SUARA YANG KITA FOKUSKAN

Posted by Unknown On 04.11
Bagaimana anda tahu apa yang harus didengar? Di tengah-tengah kegaduhan pesta, bagaimana seorang ibu tiba-tiba fokus kepada suara tangisan seorang anak, walau bukan anaknya sendiri?

Otak Kelelawar & Suara Yang Kita Fokuskan

Bridget Queenan seorang kandidat doktoral neurosains di Pusat Medis Universitas Georgetown meneliti kelelawar berjenggot (Pteronotus parnellii) untuk membantunya memecahkan teka-teki ini.

Pada pertemuan tahunan Perhimpunan Neurosains di San Diego, Queenan akan melaporkan bahwa dia telah menemukan neuron-neuron dalam otak kelelawar yang nampaknya "menyuruh diam" neuron lainnya ketika suara komunikasi relevan datang. Proses tersebut menurut ibu Bridget bisa saja berlaku juga pada manusia, seperti yang diberitakan oleh e! Science News (14/11/10).

Dalam penyelidikannya, dia juga menemukan bahwa "beberapa neuron nampaknya tahu untuk berteriak lebih keras untuk melaporkan suara komunikasi dalam kegaduhan."

"Jadi sekarang kita bisa mulai menyimpulkan bagaimana sel-sel dalam otak anda mampu menangani lingkungan indera kompleks tempat tinggal kita," tambah ibu Queenan.

Untuk memahami fungsi pendengaran otak, kelelawar secara khusus merupakan hewan yang menarik untuk dipelajari karena hewan tersebut memproses suara lewat gema lokasi (menentukan lokasi sesuatu dengan mengukur waktu yang diperlukan oleh gema untuk kembali dari titik tersebut) yang merupakan sejenis sonar biologis. Kelelawar menghasilkan suara lalu mendengar gema tersebut yang dihasilkan ketika suara tersebut terpantul dari obyek-oyek di sekitarnya. Kelelawar menggunakan gema ini untuk mencari jalan dan untuk berburu.

Otak kelelawar tak hanya harus memproses aliran gema konstan tapi juga harus secara bersamaan memproses komunikasi sosial kelelawar, tutur ibu Queenan.

"Apa yang akan kita coba ketahui ialah bagaimana seekor kelelawar dapat terbang sembari menggema lokasi, mengeluarkan bunyi berciut dan mendengarkan suaranya sendiri yang terpantul balik di tengah-tengah koloni ratusan kelelawar yang juga menggema lokasi dan mungkin secara bersamaan mendengarkan kelelawar lainnya berkata 'hati-hati!' Kelelawar memang kadang kala mengeluarkan suara hati-hati," katanya. "Malahan kelelawar memiliki sekumpulan suara komunikasi: suara marah, suara peringatan, dan suara yang mengatakan tolong jangan sakiti saya."

Wilayah pemrosesan pendengaran dalam otak kelelawar lebih besar dari pusat-pusat lainnya, sama seperti pusat pemrosesan penglihatan pada manusia yang lebih besar. "Manusia utamanya beraktifitas dengan penglihatan jadi porsi besar dalam otak diperuntukkan bagi pemrosesan penglihatan. Kelelawar di lain pihak beraktifitas dengan suara," kata ibu Queenan.

Dalam studi ini, ibu Queenan beserta para koleganya menghadirkan berbagai kombinasi suara gema lokasi dengan berbagai suara komunikasi untuk membangunkan para kelelawar untuk melihat bagaimana neuron-neuron dalam otak kelelawar menangani bunyi hiruk pikuk ini. Para peneliti menemukan bahwa beberapa neuron kelelawar mengontrol aktifitas neuron lainnya ketika suara-suara penting dirasakan. Para peneliti ini juga menemukan neuron-neuron lain yang memperbesar persepsi komunikasi kelelawar dalam latar kegaduhan suara. Kerjasama kumpulan neuron ini memungkinkan kelelawar untuk mendengar apa yang perlu didengar.

"Semua organisme secara konstan terbebani dengan rangsangan-rangsangan yang datang seperti suara, cahaya, getaran dan lain sebagainya, dan sistem pancaindera kita harus menyortir rangsangan yang paling relevan untuk membantu kita bertahan hidup," kata ibu Queenan. "Sebagai manusia-manusia kita tak hanya sensitif terhadap tangisan seorang anak, tapi kita memperhatikan kilasan cahaya lampu ambulans walaupun kita sedang asik melakukan hal lain.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/11/otak-kelelawar-suara-yang-kita-fokuskan.html

SPESIES BARU KATAK

Posted by Unknown On 04.09
Spesies baru katak ditemukan ketika dalam perburuan mencari katak yang hilang di hutan hujan Kolombia.

Spesies Baru Katak (Amfibi) Ditemukan di Kolombia
Foto: Conservation International

Para ilmuwan menemukan spesies baru katak berparuh (jenis Rhinella) ketika sedang dalam ekspedisi amfibi di Kolombia. Pewarnaan katak tersebut mengkamuflasekannya di atas daun di dasar hutan tersebut di mana hewan itu bertelur dan menetas langsung menjadi anakan katak tanpa tahap berudu.

Kabar baik dalam dunia kodok dan katak akhirnya datang setelah para ilmuwan dalam sebuah ekspedisi amfibi di hutan hujan Kolombia menemukan 3 spesies baru termasuk katak berparuh kecil. Katak kecil tersebut yang panjangnya berukuran 2 cm atau lebih kurang, merupakan anggota jenis Rhinella yang merupakan kerabat dekat dari katak raksasa cane yang bisa tumbuh hingga ukuran 28 cm. Pewarnaan yang tidak terang dari katak berparuh yang baru teridentifikasi ini mungkin mengkamuflasekannya di dasar hutan tempat hewan tersebut meletakkan telur-telurnya. Anehnya, katak berparuh tersebut nampaknya melompati tahap berudu dan langsung menetas menjadi anakan katak, menurut laporan para ilmuwan dari Conservation International, IUCN Amphibian Specialist Group, Global Wildlife Conservation, dan Fundación ProAves. Demikian seperti yang dilansir oleh Science News (19/11/10).

Sebuah spesias baru katak roket sejenis katak panah yang termasuk dalam jenis Silverstonei juga teridentifikasi untuk pertama kalinya. Para peneliti hanya bisa melaporkan bahwa katak tersebut memiliki mata merah dan hidup di hutan hujan dataran tinggi Chocó montane.

Penemuan tersebut merupakan kejutan menyenangkan karena berita tentang amfibi agak suram belakangan ini: Populasi katak dan kodok secara global menurun yang disebabkan oleh infeksi jamur, polusi serta ancaman lainnya. Namun tujuan utama ekspedisi tersebut ialah untuk menemukan katak berparuh Mesopotamia yang merupakan mahluk yang sudah lama sekali tak terlihat sehingga para ilmuwan khawatir jangan-jangan tak ada lagi yang tersisa. Sekalipun demikian, katak berparuh tersebut harus terlihat.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2010/11/spesies-baru-katak-amfibi.html

PENEMUAN CARA MENGATASI KEGELISAHAN

Posted by Unknown On 04.07

Para ilmuwan dari the Agency of Science, Technology and Research/Duke-NUS Neuroscience Research Partnership, A*STAR's Institute of Molecular and Cell Biology, dan the National University of Singapore membuat sebuah terobosan mengenai bagaimana kegelisahan diatur dalam otak vertebrata.

Cara Mengatasi Kegelisahan

Karya mereka memberikan pencerahan tentang bagaimana otak secara normal menghentikan kegelisahan dan juga memastikan relevansi ikan zebra sebagai model bagi gangguan psikiatris manusia.

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Suresh Jesuthasan menunjukkan bahwa mengganggu atau mengacaukan rangkaian neuron (sel saraf) tertentu dalam habenula, mencegah respon normal terhadap situasi stres. Dalam eksperimen-eksperimen mereka, tim ilmuwan tersebut melatih anakan ikan zebra untuk berenang menjauh dari sebuah cahaya untuk menghindar dari sengatan listrik ringan. Ikan-ikan normal dengan mudah mempelajari hal tersebut, akan tetapi ikan-ikan yang rangkaian tertentu di bagian habenulanya dirusak, menunjukkan tanda-tanda "ketidakberdayaan". Walaupun pada mulanya mereka mencoba menghindari sengatan tersebut, mereka cepat menyerah.

Lebih lagi, ikan-ikan ini menunjukkan indikasi bahwa mereka lebih gelisah daripada ikan-ikan normal, misalnya gampang ditakutkan dengan rangsangan yang tak berbahaya. Oleh karena kemiripan otak ikan zebra dengan otak mamalia, studi tersebut menunjukkan bahwa malfungsi habenula bisa merupakan penyebab gangguan kegelisahan tertentu pada manusia. Hal ini berarti bahwa stimulasi langsung habenula bisa saja digunakan sebagai cara untuk mengobati beberapa tipe gangguan kegelisahan pada manusia. Model ikan zebra yang dikembangkan oleh para ilmuwan tersebut dalam penelitian mereka bisa juga digunakan dalam usaha penemuan obat-obatan psikiatris di masa yang akan datang.

Seperti yang dikutip Eureka! Science News, Dr. Jesuthasan mengatakan, "Penelitian kami berhubungan dengan aspek-aspek dasar pengalaman manusia yaitu stres dan kegelisahan. Kami pikir bahwa habenula otak terasosiasi dengan penilaian apakah suatu stres telah diatasi. Studi kami menyediakan satu penjelasan mengenai mengapa kebutuhan untuk mengontrol lingkungan merupakan bagian yang sangat penting dalam tingkah laku manusia, karena perasaan kontrol memungkinkan organisme untuk mengatasi stres."

Dr. Jesuthasan dan timnya berencana untuk melanjutkan studi habenula pada manusia dan juga mengeksplor bagaimana mereka dapat menggunakan pengetahuan mereka tentang fungsi habenula untuk mengobati gangguan kegelisahan.

sumber : http://sainspop.blogspot.com/2011/01/penemuan-cara-mengatasi-kegelisahan.html
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About